Minggu, 30 Oktober 2011

Penginstalasian OpenSuSE 10.2



TUTORIAL INSTALASI
Instalasi ini menggunakan DVD SuSE 10.2. Pada dasarnya, perbedaan media
instalasi hanya ada pada tahap awal saja. Jika tidak ada DVD, bisa juga
menggunakan CD atau instalasi SuSE melalui jaringan. Saya menggunakan DVD
dengan pertimbangan tidak perlu gonta-ganti CD.

TAHAPAN INSTALASI
1. Masukkan DVD SuSE 10.2 dan setting komputer agar melakukan boot melalui
DVD

2. SuSE akan menampilkan halaman awal instalasi. Pilih Installation. Pada proses
ini sebenarnya kita bisa memilih sumber instalasi, tapi karena kita install
dasar dan saya menggunakan DVD, saya tinggal next. Kalau install dari
sumber lain, tekan F4 pada bagian ini.

3. Proses pertama adalah melakukan loading kernel

4. Proses load kernel secara lengkap bisa dilihat dengan menekan tombol Esc.

5. Berikutnya adalah memilih bahasa
 

6. Setelah memilih bahasa, SuSE menampilkan pilihan Perjanjian Lisensi. Baca
baik-baik, pilih I Agree... dan klik Next

7. Tahap berikutnya adalah mode instalasi. Jika harddisk yang kita gunakan
pernah diinstalasikan SuSE atau Linux lain, kita bisa memilih opsi lain. Karena
ini adalah instalasi pertama, pilih saja default New Installation. Klik Next.

8. Setelah mode instalasi, wizard berikutnya menanyakan Clock & Time Zone.
Pilih Time Zone Asia | Jakarta [sesuaikan dengan daerah waktu anda. Saya
berada di wilayah Indonesia bagian barat / WIB sehingga memilih Jakarta].
Untuk waktu, bisa memilih UTC (Coordinated Universal Time, GMT) atau Local
Time. Saya memilih local time karena saya memang hanya bekerja di di
Jakarta, tidak / belum memerlukan informasi waktu secara internasional. Klik
Next.

9. Langkah selanjutnya, memilih desktop environment. Bisa memilih Gnome bisa
juga memilih KDE [Kool Desktop Environment]. Jika menggunakan SuSE
dikhususkan untuk server, saya menyarankan menggunakan pilihan Other
dan memilih Text Mode, namun bagi anda yang baru kali ini melakukan
instalasi Linux, saya lebih menyarankan menggunakan KDE atau Gnome. Text
Mode sangat ringan, namun seperti namanya, tidak menggunakan grafik. Bagi
administrator atau IT yang biasa bergelut dengan sistem Windows baik server
maupun klien, gunakan saja desktop KDE atau Gnome.

10. Setelah memilih desktop environment, SuSE akan menampilkan pilihan
setting instalasi. Ada 2 tab pada posisi ini, yaitu Overview, berisi pilihan
utama dan Expert untuk setting yang lebih lengkap. Kedua pilihan pada
dasarnya sama, hanya saja Overview menampilkan setting utama dan
menyembunyikan setting yang kelihatannya terlalu rumit. Minimal buat
pemula, yang perlu disetting ya hanya 2 jenis, yaitu pilihan partisi dan pilihan
software. Pilihan partisi ini sangat penting, mengingat banyak pemula dalam
mengenal Linux pertama kali sering merasa bingung pada istilah partisi yang
sedikit berbeda dengan partisi model Windows.
Proses instalasi desktop sebenarnya hanya cukup memiliki 2 partisi, yaitu
partisi utama alias / (slash) atau root directory dan partisi swap. Partisi
utama atau root directory bisa diumpamakan (meski tidak 100% analog)
sebagai drive C [System] pada Windows.
Partisi utama bisa terdiri dari berbagai folder. Jangan dibingungkan dengan
istilah folder root. / memang disebut root directory. Namun user root (user root
= user Administrator pada Windows) juga memiliki folder dengan nama /root.
Jika saya menulis /root, itu berarti folder milik user yang bernama root,
sedangkan kalau saya menyebut root directory, itu merujuk pada /.
Folder milik user (home directory) biasanya berada pada directory /home. Ini
bisa diumpamakan sebagai Document & Setting. Khusus user bernama root,
home directory-nya bernama /root. Alasan mengapa user khusus ini memiliki
folder yang berbeda adalah karena root harus memiliki hak penuh terhadap
seluruh folder.
Anggap ini baru pertama kali melakukan setting, jadi kliklah Link Partitioning

11. Saat link Partitioning di klik, SuSE akan menampilkan model partisi yang
direkomendasikan. Ada 4 pilihan yang tersedia, yaitu :
. Accept Proposal
Berarti anda menyetujui model partisi otomatis yang dilakukan oleh SuSE.
Jika anda memiliki harddisk kosong, pilihan ini bisa dipilih. Biasanya SuSE
menyediakan partisi besar untuk /home [sebagai tempat penyimpanan
data], partisi yang cukup besar untuk / dan partisi kecil untuk swap.
Untuk Server dan untuk pengetahuan kita, saya tidak memilih model ini.
Kita akan pilih cara yang lebih susah, namanya juga mau jadi
Administrator Linux, hehehe...
. Base Partition Setup on this Proposal
Pilihan ini berarti kita mendasarkan setup melalui pilihan yang disediakan
oleh SuSE. Kalau pilihan pertama kita langsung menyetujuinya tanpa
syarat, pilihan ini memberikan kita kesempatan untuk mereview dan
merubah pilihan yang disediakan oleh SuSE.
. Create Custom Partition Setup
Pilihan ini yang akan kita pilih karena memberikan kebebasan
menentukan partisi.
. Create LVM Based Proposal
Pilihan partisi kita akan menggunakan model LVM (Logical Volume
Manager). LVM akan saya bahas selengkapnya dilain waktu.

12. Pilih Create Custom Partition Setup dan klik Next
Pada pilihan ini kita dapat memilih partisi apa saja yang kita buat dan berapa
besarnya.

13. Pada gambar berikut, pilih Create

14.Pilih Primary Partition

15. Pertama kali yang kita buat adalah partisi untuk /.
Pada gambar berikut, pilih :
- Mountpoint : /
- Filesystem : Ext3 (default)
- Start Cylinder : 0 (default)
- End : +XXGB
Untuk End, Jika kita ingin memberikan 40 GB pada partisi root, ketikkan +40G
atau +40GB.
Setelah selesai, klik OK dan ulangi untuk partisi lain. Khusus untuk partisi swap,
kita tidak perlu melakukan setting mount point karena akan secara otomatis
dibuatkan saat kita mengganti FileSystem = Swap.
Jika melakukan setting untuk server dan memiliki kapasitas disk dalam jumlah
besar atau disk lebih dari 1, kita dapat memisahkan partisi home dengan partisi /
dan partisi lainnya. Untuk sementara kita gunakan 3 partisi standar, yaitu /,
home dan swap.
Berbagai literatur menyarankan agar partisi untuk / kecil saja namun
berdasarkan pengalaman pribadi, kita bisa sengsara :-P kalau memberikan partisi
/ dengan kapasitas yang terlalu kecil. Partisi non root dapat dengan mudah kita
perbesar dan perkecil namun partisi root jauh lebih sulit. Jika saya memiliki
harddisk 40 GB, saya akan berikan partisi root sebanyak 30 GB, partisi swap
sebanyak 1.5 X RAM dan sisanya untuk Home. Formasi ini berlainan jika saya
menggunakan partisi khusus untuk /opt atau /var atau partisi lainnya, namun
yang jelas 70 hingga 80% kapasitas akan saya berikan untuk folder /.
Jika menginginkan partisi dalam bentuk lain, silakan sesuaikan dengan apa yang
diinginkan.

16. Setelah selesai melakukan setting partisi, klik Accept. Kita akan kembali ke
menu awal.

17. Kita bisa memilih aplikasi apa saja yang akan diinstall dengan melakukan klik
pada bagian Software namun biasanya masing-masing aplikasi memiliki
dependensi. Kita bisa mengurangi software yang tidak perlu setelah kita
install, kecuali kita bisa memastikan secara pasti apakah kita memang benarbenar
tidak menginginkan suatu software. Klik Accept untuk memulai proses
instalasi.

18. Sebelum memulai proses instalasi, OpenSUSE akan menanyakan persetujuan
kita pada lisensi non opensource. Ini biasanya dilakukan jika kita
mengikutsertakan file-file propietary seperti Adobe Acrobat Reader atau Flash
Player. Klik saja I Agree.

19. OpenSUSE akan meminta konfirmasi instalasi. Klik Install

20. Hal pertama yang dilakukan oleh OpenSUSE adalah instalasi partisi dan memformat hardsik

21. Berikutnya mulai melakukan instalasi aplikasi. Kita bisa memilih tab Details
jika ingin tahu aplikasi apa saja yang sedang menjalani proses instalasi.

22. Menjelang selesai instalasi dasar, OpenSUSE akan menyelesaikan proses,
melakukan restart dan meneruskan proses instalasi. Pada posisi ini, biarkan
OpenSUSE melakukan booting secara otomatis. Jangan khawatir, proses
instalasi akan dilanjutkan secara otomatis.

23. Setelah selesai melakukan instalasi, tahap selanjutnya adalah memberikan
password untuk root. Root adalah user yang akan bertindak sebagai
administrator sistem.

24. Tahap berikutnya adalah memberikan nama (host name) untuk komputer
yang diinstalasi. Masukkan hostname dan domain name. Saya menonaktifkan
pilihan “Change Hostname via DHCP” karena saya ingin nama komputer
bersifat statik.

25. Tahap berikutnya adalah setting hardware. Disini kita bisa memilih beberapa
pilihan sebagai berikut :

- Network Mode, apakah kita akan mengaktifkan Network Manager atau mau
secara manual ? Jika kita memiliki lebih dari satu network card, gunakan
pilihan manual. Network Manager memudahkan kita dalam melakukan
pengecekan koneksi jaringan.
- Firewall, diaktifkan atau tidak. Default = aktif. Pilihan saya adalah
disable :-). Jika ingin menjadikan komputer kita sebagai server, aktifkan pilihan
ini, namun jangan lupa untuk selalu melakukan setting tambahan yang
memperbolehkan akses melewati firewall jika akan melakukan setup sistem.
- Ipv6, default diaktifkan. Biarkan pilihan ini
- Network Interface, kita bisa melakukan setting IP, netmask dan gateway
serta DNS disini. Lihat contoh berikut (saya menggunakan contoh IP :
192.168.0.100) :

- DSL, ISDN dan Modem, sesuaikan dengan kondisi. Ini bisa dilakukan nanti
melalui YAST.
- VNC bisa diaktifkan jika kita menginginkan akses remote terhadap komputer
yang sedang diinstall.
- Setup Proxy, jika sudah ada Proxy Server. Lihat contoh setting sebagai
berikut :

Kalau semua sudah disetting, pilih Next. OpenSUSE akan melakukan
penyimpanan setting.

26. Tahap berikutnya, OpenSUSE akan mengetes koneksi internet dan melakukan
download update. Hal ini bisa dilakukan nanti. Pilih No, Skip this test,
kemudian Next.

27. OpenSUSE akan mendaftarkan repositori agar kita bisa melakukan update
langsung melalui internet. Ini bisa dilakukan nanti, kita bisa mencatat
alamatnya. Kalau mau dilakukan sekarang juga tidak masalah. Silakan pilih
yang kamu suka, hehehe... Untuk mempercepat, saya menghilangkan pilihan
repositori (karena saya akan menggunakan repo dari DVD) dan kemudian
memilih No pada pilihan Register the sources now ?

28. OpenSUSE akan meminta metode authentikasi. Karena saya menggunakan
untuk lokal, saya memilih local (/etc/password). Jika nanti menginginkan
model authentikasi lain, kita bisa mengubahnya

29. Akhirnya, tahapan instalasi selesai sudah. OpenSUSE menampilkan halaman
release notes yang berisi informasi tentang OpenSUSE dan beberapa informasi
penting jika melakukan instalasi ini. Apakah sudah selesai, eit tunggu dulu.
Klik Next dan kita akan melakukan deteksi hardware.

30. OpenSUSE akan melakukan deteksi graphic card (VGA), Printer, Sound Card
dan beberapa hardware penting. Sepanjang pengalaman saya, OpenSUSE
mendeteksi hardware dengan sempurna. Satu hal yang perlu diperhatikan
adalah resolusi layar yang ada pada deteksi Graphic Cards. Pastikan ini sesuai
dengan resolusi yang diinginkan. Kita bisa memilih Test the Configuration
untuk mengetesnya. Ingat, jika kita hanya menyediakan resolusi 800X600,
pilihan pada desktop nantinya hanya setinggi itu. Jika kita menginginkan
resolusi layar 1024X768, ubah resolusinya sekarang dan lakukan test
konfigurasi.
31. Sekarang OpenSUSE benar-benar selesai melakukan instalasi. Lihat
screenshot berikut ini :

32. Klik Finish. OpenSUSE akan melakukan proses start untuk pertama kali
(biasanya tidak perlu reboot).

33. Selesai

referensi : http://vavai.com/2007/07/12/tutorial-instalasi-opensuse-10-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar